Travelling Ala-ala BackPacker Ke Singapore (Part 1)

Well…let’s start the story guys
Kepergian liburan kali ini dalam rangka memanfaatkan tanggal merah pada bulan desember 2016. Planning kepergian sudah kita buat 4 bulan sebelum keberangkatan yaitu tanggal 9, 10, 11 dan 12 desember 2016. Dengan timeline Agustus : Beli Tiket Pesawat (Pontianak-Batam PP), September : Booking Hotel (Johor Bahru dan Singapore), Oktober : Nabung untuk Transport + Makan, November : Nabung buat belanja. Untuk point di Bulan Agustus dan September sih Alhamdulillah terlaksana (kalo mau rincian datanya nanti saya kasi rekapan di bagian akhir), tapi Oktober dan November hanya wacana akhirnya jebol tabungan juga pas bulan desember >,
Kali ini saya berangkat bersama 4 orang teman saya, dengan komposisi saya pribadi, ray, shahab, sebagai followers (me and ray as a first time traveller), sebagai tour guide kita kali ini kak delvi bersama suaminya (guardian angel) alias bang andi.
Bisa dibayangkanla ya, kalo anak ciwi-ciwi kalo mau berangkat pasti hebohnya luar biasa (as u know, yang seharusnya ini keberangkatan yang sangat rahasia pribadi bisa menjadi rahasia perusahaan), karna keberangkatan kita dimulai hari jum’at tanggal 9 desember 2016 jam 13.55 dari pontianak dengan Lion Air, yang artinya habis sholat jum’at/dzuhur kita udah harus berangkat ke Bandara.
Day1. Jum’at, 9 Desember 2016
Pontianak-Batam
Perjalanan dimulai dengan hujan badai ke bandara Supadio, mari kita check point dulu.
p_20161209_132002_bf
Sampai di Bandara, check in langsung karna tanpa bagasi, masing-masing cukup dengan ransel dan tas kecilnya. Alhamdulillah kali ini si Lion on time, keberangkatan langsung jam 13.55 sudah boarding, tapi kelamaan masukin bagasi deh, sampai di batam jam 15.30.  Dengan kondisi cuaca di Batam hujan yang cukup lebat. Setelah itu kami berlima naik taxi ke Batam Center dan sampai disana sekitar jam 17.00, dan langsung check in di Majestic dengan ambil penyebrangan jam 17.30 ke Singapore.
Batam-Singapore
P_20161209_171918_BF.jpgJam 17.30 chulbal guys dari Batam ke Singapore dengan durasi perjalanan kurang lebih 1 jam (kalo masih ada urusan di Kantor yang masih belum selesai, silahkan dilupakan dan segera matikan Hp anda). Disini dilakukan check out passpor untuk status keluar dari Indonesia.
Salah satu tips ketika menyebrang menggunakan fery, jangan pilih kursi yang paling depan, karena hantaman ombaknya lebih besar dibandingkan dibelakang (like we do), akhirnya karna first time traveller tadi, dapat kursi paling depan dan menikmati betapa kencangnya ombak di area penyebrangan.
Singapore – Johor Bahru
P_20161209_202151_BF.jpgSampai di Singapore jam 19.30 waktu setempat (perbedaan waktu 1 jam), di pelabuhan HarbourFront dilakukan check in passpor untuk masuk ke Singapore, kalau bisa ambil antrian paling depan karena untuk waktu liburan banyak orang Indonesia yang berdatangan ke Singapore. Antri di custom sekitar 1 jam untuk cap passpor. Alhamdulillah untuk masuk ke Singapore kali ini lancar, hanya ditanya akan menginap dimana dan selama berapa hari. Setelah cap passpor perjalanan lanjut untuk naik MRT dari HarbourFront ke Kranji. Cukup berjalan kaki sebentar, kita langsung beli tiket MRT (kisaran 1,6-2,7$ Singapore tergantung jarak). Setelah itu naik MRT mulai jam 21.00 masih melanjutkan perjalanan ke Kranji.
P_20161209_205015_BF.jpgDengan kondisi negara Singapore yang to many rules ga boleh minum ga boleh makan di MRT, jadi kalo haus pandai-pandai ajalah nyari kesempatan minum di lain tempat. Perjalanan pake MRT ga lama, Cuma kalo harus pindah jalur kita harus jalan kaki kadang di lantai yang berbeda. Kalo liat kondisi di MRT bikin betah, bersih banget, dan kita bisa liat habbitnya orang sana, di MRT masih bisa baca buku, headset dan Hp itu pegangan wajib buat mereka.
Sampai di Kranji jam 21.58, lanjut perjalanan menuju ke JB Central (nah ini yang bikin bingung kita harus pake bis yang mana, jadi kalo bingung tanya aja penduduk setempat, kali ini kami naik bis nomer 2 dengan angka 170 à makin bingung kan lo), kali ini bang Andi sebagai pemandu wisata yang katanya tiap tahun bolak balik SG (udah kayak kampung halaman) nanya ke bapak-bapak orang Malaysia yang juga mau ke Johor Bahru, akhirnya kita ngekor untuk ke JB Central untuk cap Passpor. Makin malam tapi perjalanan makin naik ritmenya.
Jam 22.05 check point di Woodlands tapi ini kita baru turun dari bis, masih jalaaaaaaan (gilak ni masih bawa tentengan, dibawa jalan naik turun tangga kayak TKI beneran, dan bang Andi sebagai agentnya, jalan aja sampe 15 menit). Jam 22.20 mulai ngantri cek point untuk keluar dari Singapore, dengan antrian panjaaang. 22.39 selesai antrian langsung naik bis (tiket bis yang tadi masih bisa digunakan dengan nomor bis yang sama, jadi jangan sampai hilang ya), menuju check point passpor untuk masuk ke Malaysia. 22.56 sampai di check point Malaysia (Johor Bahru) dan ngantrinya sedikit nih, langsung selesai Cuma berapa menit. Jam 23.00 urusan administrasi selesai dan kita cukup jalan kaki ke penginapan yaitu di Citrus Hotel cukup jalan 15 menit, Alhamdulillah hari pertama yang penuh dengan perjalanan dari udara, laut, darat sampai jalan kaki selesai. Tapi sebelum istirahat, kami sempatkan untuk makan di daerah belakang hotel masih banyak warung tenda makanan dengan harga yang terjangkau. Dengan menu Nasi Goreng 5RM, Air kelapa 4,5 RM. Setelah isi bensin Istirahat hari pertama untuk melanjutkan perjalanan besok harinya.

—-Bersambung—-

Ramadhan yang berbeda

Kali ini memang beda

Tiap hari terlewati dengan lupa ini sudah ramadhan ke berapa

Terlewat begitu saja

Terlupa sudah moment untuk “sering buka bersama”

Karna sudah begitu jarang yang “seirama”

Sudah lupa moment kapan terakhir bisa iktikaf di masjid

Menikmati melawan rasa kantuk di dini hari menuju pagi….

Ramadhan ini berbeda

Dengan begitu banyak peristiwa dialami olehku maupun sekitar

Sempat merasa menjadi pusat rotasi

Disaat semua bergerak dalam hidupnya

Hidup ini terasa statis

“Yes, tiap magrib aku sm ibu nangis,karna hanya buka berdua, tahun pertama tanpa bapak”

Begitu membuat aku terdiam

“Yes, anaknya temen kita meninggal”

Mengingatkan ku kejadian beberapa ramadhan yang lalu ketika teman dekatku d i jogja mengirimi pesan singkat

“Yes, anaku udah meninggal,..”

Begitula kehidupan semesta mereka berjalan

Dibina untuk menjadi naik kelas menjadi manusia yang lebih bermakna dan berkelas

Dimana posisi diri?… Jalan ditempat masih dalam proses perenungan… Dengan begitu sering menyesali melepas ramadhan begitu saja…

Percaya G?

“hei,ternyata emg g ada orang yang bisa aq percaya 100% untuk tau seluk beluk hidupku sekarang, kamu jauh, makanya aq bisa leluasa nyeletuk, hal itu beda ketika kita saling berhadapan”…

Sering kali menaruh kepercayaan agar orang yang kita ceritain, minimal bisa menyimpan “luka” yang sudah kita bagi. Tapi terkadang percaya itu, berbalik ketidakpedulian, lelah, bahkan menjadikan cerita itu “joke” bagi mereka….

Yah, mulai dari situ, untuk waktu sekarang lebih baik menyimpan itu sendiri…

Karna percaya atau ga…

Kdg sesuatu yang kita anggap rahasia, menjadi olokan bagi orang lain…

Percaya atau ga…

Lelah percaya dengan orang lain

Ntah itu betina atau jantan

Tapi yang namany wanita, pasti butuh tempat untuk berbagi….

Mulai untuk percaya lagi, tapi masih dalam ketakutan….

Ga apa apa itu apa apa

Sometimes i hate someone that asked me “is it ok for u?”

Udah tau apa-apa tp nanya “kamu ga pa pa kan?”

Ah basa basi busuknya kaum hawa emang begitu

T** banget

Dan begoknya dijawab juga “gak apa-apa” karna ga mau bikin yang nanya jadi “apa-apa”

Kayak orang bilang no offense ya itu malahan offense

Auk ah gelap

Yang jelas yang nanya kamu “ga apa-apakan?”

Please pikir dlu kalau posisinya ditukar gimana

Yaudah gitu aja

Weekend yg lagi kebosanan

Dear My Room 19

Kata jiyo di drama “Because this is my first life”, setiap orang pasti punya “room 19” ruangan yang ga bakalan bisa dimasuki bahkan oleh orang terdekatnya. Tapi room 19 itu sebuah novel, yang ternyata berakhir tragis. Mereka pasangan yang saling menyimpan rahasia di “room 19” dan menampilkan “all is well” didepan pasangannya masing-masing. yah setelah aku cari tau, rupanya si perempuan akhirnya “suicide” karna frustasi sendiri. Ngeri cuy…. dan akhirnya aku pun mengirim pesan singkat ke TamCung mengatakan “hey, aku lagi ga pengen ngapa-ngapain”. Ternyata dia juga merasakan hal yang sama dan mengatakan “ya udah nyampah aja di blog”. Oke kira-kira ini yang lagi dirasain : 

 

Tidak senang tapi tidak juga sedih

Tidak marah tapi tidak juga bahagia

Tidak galau tapi tidak juga stabil

Tidak bosan tapi tidak juga asik

Tidak mau kelayapan tapi tidak juga ingin stay di kamar

udah gitu aja, kayak anak SMP yang lagi nulis ‘dear deary’…. alay lu!

Beda lagi dengan si de, yang masih ngerasa sedih ketika ingat almarhum bapak. Yaudah aku bilang aja “sampai berapa tahun pun, kalau masih keinget, kalau aku mah tetap bakalan nangis”. 

Karena ga ada niat sedikitpun untuk melupakan, nangis bukan berarti lemah cuy. Tiap manusia itu dianugerahi rasa. Rasa yang kadang begitu sangat sensitif akan suatu hal, rasa yang kadang begitu apatis akan suatu hal. Dan kadarnya disetiap manusia itu juga berbeda-beda. Sehingga ga bisa disamain satu dengan yang lainnya. Bukan berarti kamu menangis, berarti kamu menanggung semua kesedihan di muka bumi ini. Bukan berarti kamu ga bisa nangis, kamu ga pernah bersimpati dengan kesedihan orang lain. 

 

Karena bersama kesulitan itu selalu ada kemudahan

 

Waktu demi waktu terlewati dengan seharusnya, dengan diinginkan maupun tidak.

Setiap fase dalam hidup pun terlewati dengan seharusnya

Kadang dengan rasa bahagia dan kadang dengan sedikit perasaan sedih

Kadang dengan sedikit rasa hambar

 

Dan semua manusia pun melihat

Oh dia baik-baik saja

Dan kadang “hidupnya lebih mudah dari hidupku”

 

Yang perlu diingat

Tidak ada yang mudah dari hidup setiap insan

Jangan banyangkan ketika dia tersenyum,

Dibalik senyumnya pasti pernah ada rasa sedih

Jangan hanya liat dia tertawa lepas

Dibalik tawanya tentu ada perasaan hancur

 

Karna rasa itu selalu berlawanan

Karna berlawananlah kita dapat merasakan yang manis

Senang karna ada sedih

Senyum karna ada tangis

 

Dan menjalani dengan ikhlas adalah kunci dari hidup

Memahami bahwa setiap kesulitan yang lewat pasti ada kemudahan

Itulah janjiNya.

Dan terkadang melepas adalah pilihan terbaik

Bukan hanya keinginan untuk selalu memiliki

Karna tidak ada yang sepenuhnya milik kita di dunia ini

Dan apa yang menjadi milikmu akan kembali padamu dengan caraNya

Addicted!

-Jangan pernah memulai ketika tidak sanggup mengakhiri

-Jangan pernah berbagi ketika tak sanggup kehilangan

-Jangan pernah bahagia bila tak ingin sedih

Dan manusiapun tidak akan pernah bisa melakukan hal tersebut. Masing-masing dari kita mempunyai sifat “egois” yg ingin diperhatikan dan ingin berbagi.

Akhirnya kita pun menjajaki beberapa teman yang saling bisa menikmati apa yang ‘kamu dan aku rasa’. 

Sampai pada satu titik, dia mungkin sudah bosan dengan cerita-ceritamu.

Egoismu pun tak menyadari, ternyata kamu hanya berbagi dan tak pernah memberi. Ibarat benalu yang hanya mengambil manfaat dari inangnya.

Berawal dari semakin segan untuk meminta bantuan bahkan menanyakan kabar…

Dan akhirnya frekuensi semakin jarang dan selamanya tiada kabar…

Dan harus disadari, akhirnya kamu tetap harus sendiri tanpa harus “ketergantungan” dengan yang lain.

Sederhana itu bahagia yang mudah

“karna ga sesimple itu des, semakin tinggi ritme hidup elu, semua ga semudah bilang gw suka lo suka, yaudah kita jalan”. (Isi chat gw sm si temen absurd).

Bisa aja sih jalan, tapi ya jalan ditempat.

Dan diapun protes “gw heran deh sm org kek gt, ribet amat hidupnya”.

Ya, kalau bisa aku juga ingin menjadi manusia yang bahagia dengan mudahnya.

Seperti afiqa yang bahagia karena bisa makan oreo sambil dicelupin.

Kalau bisa, bukan cuma aku, tapi kamu juga ingin bahagia dengan mudahnya.

Seperti spongebob yang bahagia cukup dengan ber”imaginasi”.

Belum lagi pertanyaan muncul dari seorang teman lainnya.

“Coba kamu tanya, sebenarnya kamu pengennya gimana?jawabanmu sendiri tanpa intervensi yang lain,. Dan itu susah lo”

Dan ternyata jawaban apa yang di mau itupun begitu sulit, dikarnakan kita hidup bukan untuk diri sendiri, tapi untuk orang lain. Sama seperti alasan aku bekerja, selain karena mengurangi angka pengangguran dan agar bisa belanja online, lebih kepada untuk orang tua.

Dan alasan-alasan itupun kembali menjadi kompleks dan tidak sesederhana yang diinginkan.

Keinginan bahagia dengan mudahnya terhalang oleh rumitnya pemikiran

Keinginan bahagia yang mudah itu terhalang oleh lingkungan sekitar

Tapi pada akhirnya pemikiran yang kompleks itupun menyerah

Untuk menyederhanakan hati menjadi mudah untuk bahagia

Mudah menerima

Mudah bersyukur

Mudah menikmati

Dan hati itupun menyerah, menyerah untuk mengeraskan hati

Untuk menyederhanakan fikiran agar sederhana menjadi bahagia yang mudah…

#RandomThought